Umrah Hemat

Hari Ibu, Antara Kenangan dan Renungan


Hampir semua warga mengerti jika seorang ibu penghuni rumah yang berada persis di seberang saya adalah pensiunan guru. Tapi hanya sedikit warga tahu bahwa beliau itu pernah menjadi guru saya di salah satu sekolah di Surabaya.

Jadi, bertemu satu komplek di perumahan itu secara kebetulan saja karena sebelumnya saya dan ibu guru berlainan tempat tinggal. Di sekolah beliau dipanggil Bu Soemiati. Sedangkan di rumah lebih dikenal sebagai Ibu Soewarno sebab mengikuti nama sang suami. Tahun 2011 Pak Warno wafat meninggalkan Bu Soemiati dengan dua putri dan seorang putrayang sudah pada dewasa.

Hari Minggu (21/12/2014) pulang dari shalat subuh di masjid Al Muslimun Rungkut Barata Surabaya saya sempatkan membaca beberapa bagian dari kitab Alquran. Surah Al Anfaal, ayatnya mulai pertama sampai nomor lima.

Bersamaan menutup kitab suci, saya dengar suara mobil sejenis diesel yang tidak lagi halus mesinnya. Saya tengok dari balik jendela, terlihat ada mobil ambulan berhenti di depan rumah Bu Soemiati. Posisi belakang mobil mendekat pagar rumah, sedangkan daun pintu ambulan terbuka lebar.

Sudah hampir satu tahun ke belakang kondisi Bu Sum, demikian teman-teman sekolah senang memanggil dengan sebutan itu, tidak lagi sehat. Beliau mengidap penyakit akut, kanker payudara serta gangguan fungsi ginjal yang mengharuskan beberapa kali harus opname di rumahsakit. Tidak cuma beberapa kali, namun terbilang sering kali masuk-keluar rumahsakit.

Seperti ada perasaan aneh yang mendorong saya keluar rumah untuk mendatangi kediaman Bu Soemiati. Saya berpapasan dua orang paramedis ambulan pada saat mendorong keluar tempat tidur pasien. Salah seorang paramedis menggelengkan kepalanya, pertanda mereka batal membawa Bu Soemiati.

Di kamar utama Bu Soemiati tertidur dalam keadaan koma dengan selang yang dialiri oksigen menancap di hidungnya karena sudah sulit bernafas. Putri keduanya sibuk menghubungi kakak tertua di Jakarta, sementara putra lelaki bungsunya, membisikkan kalimat berisi bacaan sebagai penuntun seseorang menghadapi sakaratul maut. Telinga kanan juga dibisiki oleh salah seorang tetangga yang sudah datang sebelum saya.

Suasana hening sekali. Saya tatap wajah ibu guru yang pernah memberi nilai kecil untuk pelajaran aljabar, tapi sekaligus juga memberikan pengajaran bagaimana cara menyelesaikan tugas selama di sekolah. Kenangan indah masa sekolah datang menyapa. Sekali-kali mata ini terpejam, menarik napas dalam-dalam, bahkan tanpa disadari ada airmata meleleh di sudut mata saya.

Putri Bu Sum tiba-tiba minta pertimbangan, apakah kondisi macam begini harus dibawa ke rumahsakit. Seperti reflek saya jawab singkat, “Gak perlu". Hati kecil saya bilang, ini sudah dekat waktu panggilan Tuhan.

“Tapi tabung oksigen harus dibawa bersama ambulan karena miliknya rumahsakit” kata putri Bu Sum

Kalimat terakhir ini sama sekali saya tidak pernah duga. Saya diam tidak menjawab. Siapapun maklum bahwa tabung oksigen yang dihirup itu sedikit “memperpanjang” nafas Bu Sum. Tapi keputusan sudah diambil dengan segala risikonya.

Saya lirik jarum jam, persis pukul 05.00 WIB. Ketika petugas datang memasuki kamar, sepatunya terdengar seolah-olah dekat telinga. Dengan cekatan mereka melepas selang sekaligus membawa pergi tabung oksigen. Dia lalu pamit kembali ke rumahsakit.

Cepat-cepat saya dorong putrinya agar  memegangi denyut nadi di tangan kiri, sementara putra lelakinya saya minta mendengarkan detak jantung lewat dadanya.

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun…..

Limabelas menit kemudian, tepatnya pukul 05.15 WIB Hajah Soemiati Binti Doerakim nafasnya terhenti. Beliau sudah dipanggil menghadap kehadirat Ilahi dalam usia 67 tahun. Semua orang yang berada dekat Bu Sum pelan-pelan menjauhi jasad almarhumah....

Hari ini, Senin (22/12/2014) selalu diperingati sebagai Hari Ibu.
Hari Ibu, antara kenangan dan renungan. Semoga khusnul khotimah. Selamat jalan Bu Soemiati, tetanggaku dan ibu guruku!

About Anonim

Tim penyusun arrangement website, konten isi dipetik dari kompasiana berdasarkan izin penulis dan narator Bapak Arifin BeHa.
    Blogger Comment
    Facebook Comment