Umrah Hemat

Mengenal Generasi Gen Z

Harian Kompas mendapat penghargaan dari World Association of Newspapers and News Publishers sebagai World Young Reader News Publisher of the Year/World Young Reader Prize 2015. Penghargaan diserahkan dalam pembukaan konferensi WAN- IFRA di Bombay Convention and Exhibition Centre, Mumbai, India.

Mengenakan jas berbalut syal dengan motif batik, Wakil Redaktur Pelaksana Kompas, Rusdi Amral dengan wajah berseri menerima penghargaan tersebut dari Wakil Presiden WAN-IFRA Jacob Mathew. Mewakili Harian Kompas, Rusdi Amral didampingi Manajer Marketing Novi Eastiyanto dan Manajer Promosi Tarrence Palar.

Sebelum penghargaan diserahkan, peserta konferensi menikmati paparan video tentang hal-hal yang dilakukan harian Kompas dan mendapat penghargaan WAN-IFRA, antara lain membuka kesempatan bagi kaum muda ikut penjelajahan Tambora dengan mengirimkan video dan foto lewat #TamboraChallenge di Instagram dalam rangka peringatan 200 tahun letusan Gunung Tambora. Kegiatan ini menghasilkan 2.002 partisipan dengan 15.096 komentar diskusi bersamaan dengan liputan khusus (*Kompas 3/9).

Rusdi menjelaskan, kolaborasi redaksi dan bisnis untuk menciptakan kegiatan dan memberi ruang bagi anak muda terlibat dan mengalami menjadi bagian dari harian Kompas. ”Kami memahami situasi di antara anak-anak muda saat ini. Kami perlu mendengar dan terlibat bersama mereka,” ujarnya.

Generasi muda yang disebut sebagai generasi Millennials (15-32 tahun) adalah generasi yang didorongoleh kegairahan (passion), menolak perintah langsung, tetapi butuh beberapa tantangan untuk membuktikan diri. ”Harian Kompas memahami dan untuk itu kami memberi tantangan lewat beragam proyek dan aktivitas yang kemudian mendapatkan penghargaan ini,” tutur Rusdi.

WAN-IFRA merupakan representasi lebih dari 18.000 penerbitan, 15.000 situs daring, dan 3.000 perusahaan di lebih dari 120 negara. Penghargaan itu menandai awal perjalanan 50 tahun kedua harian Kompas yang pertama terbit pada 28 Juni 1965.

Generasi “Z”
Satu pekan sebelumnya (Jumat, 28 Agustus 2015) Radio Suara Surabaya mengudarakan talkshow “Mengenal Generasi Gen Z dan Perilakunya” menghadirkan pakar statistik ITS, Kresnayana Yahya dan psikolog Astrid Wiratna yang dipandu oleh Restu Indah selaku pembawa acara.

Menurut Kresnayana Yahya, masa pertumbuhan Indonesia saat ini menghadapi struktur penduduk sangat unik. Sekarang ada sekitar 110 juta orang penduduk Indonesia umurnya dibawah 28 tahun. Mereka disebut generasi Gen Z yang lahir di era tahun 1995 sampai tahun 2010.

Teknologi dan internet mendominasi begitu tinggi kehidupan mereka. Sejak lahir procot sudah punya kebebasan akibat akses informasinya, gadgetnya, dan mindsetnya dibangun oleh suasana yang egaliter. Mereka ini seringkali dianggap aneh oleh generasi yang lebih tua. Pengguna facebook, twitter, link, path, dan instagram itu mayoritas kelompok ini. Mereka terampil dengan bahasa singkatan, yang sudah tidak lagi dimengerti orang tua.

Kelompok ini dominan, karena mereka (110 juta orang) berada di frekuensi yang sama. Cara belanjanya, cara janjiannya, cara melek malamnya. Di lain sisi kita melihat bahwa diantara kelompok ini muncul banyak ide-ide hebat, ada banyak talenta dari mereka bahkan menghasilkan karya dimana tidak pernah dibayangkan oleh orang lain. Ada anak umur 14 tahun sudah bisa cari uang. Ada anak menjadi desainer tekstil ketika masih berusia 12 tahun, dan masih banyak lagi keahlian terutama dalam bidang ekonomi kreatif.

Psikolog Astrid Wiratna meyakini, tiap jaman selalu mempunyai ciri sehingga tidak perlu dipersepsikan secara negatif. Para orang tua harus belajar bekerjasama dengan mereka, atau mencoba mengganti standar dengan pola baru.

Asrid bercerita, ada kejengkelan seorang anak terhadap orang tuanya yang selalu menyebut anaknya aneh. Bahkan anak tadi dibilang masa depannya suram. Anak tersebut ternyata mampu membuat suatu karya yang mendatangkan uang. Orang tuanya, selama bertahun-tahun, penghasilannya cuma sedikit diatas UMR, sementara anak tersebut memperoleh uang berkali-kali lipat, dalam waktu singkat. Pertanyaannya siapa yang aneh?

Menurut Astrid, tidak mungkin mengajak anak sekarang masuk ke jaman sekian puluh tahun lalu seperti jaman kita. Seharusnya kita yang coba masuk ke jaman mereka meskipun hanya separo. Dengan demikian mereka mau berteman dengan kita. Orangtua harus  memahami mereka sehingga memberikan lingkungan kondusif agar mereka mengeluarkan potensinya. Percayalah, Tuhan selalu memberikan semua generasi potensi yang baik dan mereka akan berkembang semakin lama semakin baik

Persoalan serius

Kresnayana menambah cerita, ada seorang anak dari daerah kuliah di Surabaya. Setiap pagi ibunya mewajibkan anaknya untuk melaporkan keadaannya. Lama-lama anak tersebut mematikan ponselnya dan berganti nomor. Anaknya bilang, jangan lagi main kontrol. Silakan sms saja, pasti dijawab. Relasi hubungan ibu-anak di kemudian hari semakin memburuk karena si anak merasa lebih baik tidak punya orangtua. Anak tadi mengeluhkan sikap orangtua yang tidak pernah mau mengerti perasaan anaknya.

Ketika waktunya wisuda si anak malah melarang ibunya hadir, karena merasa malu jaman sekarang masih ada orangtua macam begitu. Cerita belum selesai, ketika sudah lulus si ibu melarang anaknya bekerja di Jakarta. Apa yang terjadi? Sang anak makin marah, karena perusahaan yang sesuai dengan pelajaran saat dia kuliah, adanya justru di Jakarta.

Sekarang konsep mendidik dan mentransfer nilai-nilai harus mulai berubah. Apa yang dialami generasi sebelum ini tidak bisa dijiplak persis kepada anak sekarang. Ini persoalan serius.

***
Harian Kompas dengan segala tantangannya berupaya menghadirkan dan menyapa generasi muda. ”Kompas tak hanya berhasil mempromosikan produk jurnalistik di antara kaum muda, tetapi juga mengajari mereka lebih aktif sebagai bagian dari masyarakat yang demokratis,” ujar Jacob Mathew, Wakil Presiden WAN-IFRA, saat pengumuman sebelum pemberian penghargaan di hadapan ratusan peserta konferensi.

Sementara itu Radio Suara Surabaya (SS) dengan segala suka cita selalu menggali potensi orang-orang muda melalui bermacam kegiatan. Radio SS berbasis News-Interaktif-Solutif, siarannya dikenal sebagai penggerak partisipasi publik, menggalang kekerabatan sosial, sumber solusi permasalahan, dan inspirator kebijakan. Khalayak menyebut SS merupakan alun-alun komunikasi dan demokratisasi publik.

Antara tidak sengaja dan kebetulan, Harian Kompas terbit perdana 28 Juni 1965, sedangkan Radio SS mengudara pertama kali 11 Juni 1983, bersamaan momen Gerhana Matahari total. Jadi, Harian Kompas sudah 50 tahun mengabdi demi nusa bangsa, dan Radio Suara Surabaya selama 32 tahun mengudara memenuhi harapan masyarakat.

Dua media ini –dan juga media yang lain, terus andil memikirkan masa depan generasi muda dan anak muda. Tuhan selalu memberikan semua generasi potensi yang baik. Percayalah!

About Anonim

Tim penyusun arrangement website, konten isi dipetik dari kompasiana berdasarkan izin penulis dan narator Bapak Arifin BeHa.
    Blogger Comment
    Facebook Comment