Umrah Hemat

Keringat Bercucur, Semangat Tak akan Luntur

Memberi makan satwa di belakang pendopo (Dokumentasi Pribadi)
Hari Jumat (24/3/2017) pukul 06.00, H. Sunjaya Purwadi Sastra, pejabat Bupati Cirebon periode 2014-2019 keluar menuju halaman komplek rumah dinas Pendopo Kabupaten melakukan olahraga jalan kaki. Mengenakan kaos Polo warna biru dan celana pendek, purnawirawan perwira TNI AD ini  memulai aktivitas pagi.
Cuaca langit tampak cerah, saat Kang Sunjaya, demikian panggilan akrabnya, bergerak dari halaman timur mengarah ke halaman depan. Setelah berkeliling di depan dan samping barat pendopo, dia menuju halaman belakang.

Bupati Sunjaya “disambut” kicauan beberapa burung dan satwa peliharaannya. Burung merak Irian dan burung kalkun seolah merasa kehadiran sang tuan rumah. Bersebelahan itu ada kandang rusa yang disatukan dengan domba Garut. Dua puluh rusa bergerak mendekat ketika Sunjaya membawa rumput gajah.

“Rumput gajah sengaja ditanam untuk persediaan pakan rusa dan domba” ujar Sunjaya.

Selesai olahraga, Sunjaya menikmati sarapan pagi. Ada banyak menu disiapkan istrinya, Hj. Wahyu Tjiptaning, namun Sunjaya lebih memilih tempe bacam, tahu goreng dan telur dadar. Sambil menikmati hidangan, sesekali dia membaca berita koran lokal dan suratkabar nasional edisi hari jumat.

Pukul 07.30 mengenakan seragam dinas Bupati Sunjaya meluncur keluar dari pendopo kabupaten menuju sebuah kantor di Jl. Pemuda, Cirebon. Sekitar satu jam berada di instansi jajaran samping itu, Bupati ditemani seorang ajudan bergerak lagi mengarah ke Kampus Universitas 17 Agustus 1945 di Jl. Perjuangan Cirebon. Dia ditunggu kehadirannya untuk menyaksikan pelantikan pejabat baru Rektor Untag Cirebon Prof.Dr.H.M. Guntoro.

Drs. H. Sunjaya Purwadi Sastra selaku Bupati Cirebon ternyata diminta tampil menyampaikan orasi mewakili tiga Kepala Daerah di Jawa Barat yang diundang. Acara belum selesai, Sunjaya ijin meninggalkan tempat. Belum juga masuk mobil, belasan wartawan melakukan door stop. Mereka meminta konfirmasi seputar batas wilayah antara Kota Cirebon dengan Kabupaten Cirebon terkait polemik ijin usaha supermarket baru yang dirasa merugikan masyarakat.

Sunjaya Purwadi Sastra orasi saat pelantikan Rektor baru
Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon
(Dokumentasi Pribadi)
Tampil Segar
Keluar Kampus Untag Cirebon, sudah pukul 11.15. Mobil Bupati melewati desa Sidawangi Blok Capar, Kecamatan Sumber. Sunjaya turun dari mobil, berjalan mendaki sebuah perkebunan yang tampak baru mulai ditata. Lahan seluas 1,5 hektar tersebut dua tahun silam dibeli Sunjaya. Rencananya akan dibuat lokasi outbond,tempat wisata alam dilengkapi kolan ikan, aneka tanaman keras dan tanaman buah, serta beberapa jenis satwa.

Setelah naik dan turun kebun dia memberi arahan kepada 10 orang petani penggarap lahan. Dia membagikan ilmu cara menggarap lahan. Beberapa kali Sunjaya memegang cangkul memberi contoh kepada para pekerja. Sunjaya sempat melihat kolam ikan yang baru diisi bibit patin, nila dan lele. Di sela-sela kesibukan dan masih berseragam dinas rupanya Bupati Sunjaya ingin rileks sejenak.

Bupati Cirebon sahabat petani (Dokumentasi Pribadi)

“Meskipun sebentar,kita perlu rehat supaya dapat kembali tampil segar.” katanya. Menjalani tugas sebagai Bupati Cirebon membutuhkan stamina prima agar selalu tampak segar.

Dari kebun, kira-kira 10 menit kendaraan dinas sudah berada di Komplek Pemerintahan Kabupaten Cirebon, Kecamatan Sumber. Masuk ruang kerja hanya sebentar. Sekadar ambil air wudhu, Sunjaya bergegas keluar lagi untuk melaksanakan shalat Jumat di Masjid Agung Sumber.

Usai jumatan, Sunjaya sempat membagikan uang sedekah kepada fakir miskin di tangga masjid. Di tengah jalan menuju kantor, Sunjaya mendadak belok mendekati penjual bakso di sudut halaman. Ada empat orang kelihatan rikuh ketika Bupati Cirebon itu duduk di sebelahnya.

“Waduh nggak sangka bisa bareng Pak Bupati” celetuk Candra, seorang karyawan Bank BJB Syariah di samping Sunjaya.

Usai jumatan nongkrong di kaki lima (Dokumentasi Pribadi)

Beberapa Polwan pengatur lalu lintas memberi salam. Para PNS melihat adegan tersebut tidak terlalu heran. Itulah salah satu kebiasaan orang nomor satu Cirebon seusai melaksanakan ibadah shalat. Nongkrong berbaur dengan masyarakat sambil menikmati kuliner pedagang kaki lima.

Masuk ruang kerja bupati menandatangani surat-surat penting. Di ruang tamu bupati sudah menunggu 5 orang tamu. Ketika menerima tamu adakalanya Bupati didampingi oleh para stafnya. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Cirebon Iwan Ridwan Hardiawan termasuk diantaranya.

Jelang sore, Kepala Bagian Kesra Sudarjo Adam, masuk ruang kerja Bupati, mengingatkan bahwa pukul 15.00 agenda bupati melantik Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Cirebon. Bupati dan rombongan berjalan kembali ke Masjid Agung Sumber yang letaknya persis berhadapan dengan kantor dinas bupati.

Bupati Sunjaya Purwadi Sastra didampingi Kepala Kementerian Agama Cirebon H. Imron, dan Ketua DMI Jawa Barat KH. Zulkarnain, Ketua MUI Jawa Barat Bahrudin Yusuf melantik pengurus baru DMI daerah Cirebon di area basement masjid.

Menghadiri pelantikan Dewan Masjid Indonesia
Kabupaten Cirebon (Dokumentasi Pribadi)

Mengelola Sampah
Mobil dinas bupati bergerak meninggalkan kantor sekitar pk 18.00. Masih ada kegiatan sosialisasi swa kelola sampah di Kecamatan Palimanan. Di Kabupaten Cirebon ada 412 desa, dimana setiap minggu “menghasilkan” 1.236 ton sampah. Nantinya di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) desa ditempatkan 3 tenaga orang operator. Tugas operator memilah sampah organik dan non organik kemudian diolah menggunakan tungku untuk dijadikan kompos. Sunjaya senang dengan antusias masyarakat menyambut idenya. Pola mengelolaan sampah terpadu ini bakal dimasukkan ke dalam anggaran perubahan tahun 2017.

Sunjaya Purwadi Sastra, kelahiran Desa Beberan, Kecamatan Palimanan Cirebon 1 Juni 1965 memasuki Rumah Dinas Pendopo Kabupaten Cirebon pada pukul 22.00 malam. Lima belas jam lebih dia beraktivitas. Semenjak kekosongan pejabat Wakil Bupati Cirebon, agenda acaranya semakin padat.

Sebagaimana diketahui Wakil Bupati Cirebon Tasiya Soemadi merupakan terpidana kasus korupsi dana bantuan sosial tahun 2009-2012. Pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung menjatuhkan vonis pidana penjara selama 5 tahun 6 bulan. Ketika hendak dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri Cirebon Tasiya Soemadi menghilang.

Kejaksaan Negeri tanggal 1 Februari 2017 menetapkan Wabub Cirebon dalam daftar pencarian orang (DPO). Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta Tasiya agar koperatif menghadapi jaksa eksekutor. Menurut Aher, pemerintahan di Kabupaten Cirebon tidak boleh terganggu. Dia percaya tanpa kehadiran Wakilnya, Bupati Sunjaya tetap mampu memikul tanggung jawab.

Ditanya sosok pengganti Wakil Bupati, Sunjaya tersenyum lebar. Diambilnya sebuah cetakan bersampul warna kuning, lalu dia mencermati lembar demi lembar. Pada bagian depan sampul, tertulis:

Desertasi Salah Satu Syarat Ujian Terbuka Guna Memperoleh Gelar Doktor Ilmu Pemerintahan pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri. “Pengaruh Reformasi Birokrasi Tata Laksana Profesionalisme dan Strategi Terhadap Inovasi Daerah Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat.”

Insya Allah jika tidak ada halangan, pada tanggal 10 April 2017 Bupati Cirebon ini akan menghadapi sidang terbuka di IPDN Jatinangor, Bandung untuk meraih gelar Doktor.

Waktu sudah larut malam. Sunjaya membasuh keringat di wajahnya. Meskipun keringat bercucur, namun semangatnya tidak luntur.

About Anonim

Tim penyusun arrangement website, konten isi dipetik dari kompasiana berdasarkan izin penulis dan narator Bapak Arifin BeHa.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :