Umrah Hemat

Soto Betawi Merajut Indonesia Mini

Grup Sahabat (kiri-kanan) Frans Pasenti, Ivan Bochem, Winarno, Ny. Iin Pasenti, Ny. Winarno, Hj. Cici Noor, HM. Noor dan Y. Sutikno


Tangan Hajah Cici Noor memotong daging sapi menjadi kecil-kecil, diletakkan ke dalam mangkuk. Dia memasukkan irisan tomat dan kentang rebus berikut rajangan daun bawang. Sebelum disiram kuah kaldu masih juga ditaburi kerupuk emping blinjo dan bawang goreng.  Beberapa menit kemudian tersajilah hidangan Soto Betawi.

Sementara itu suaminya, H.M. Noor bersama para sahabatnya sudah menunggu di ruang tamu. Tidak lebih dari sepuluh orang saat itu tengah menikmati hidangan pembuka berupa Asinan Betawi. Acara ini bukan sekadar kegiatan makan siang, melainkan juga sebuah budaya saling mengikat tali silaturahim.

Pemilik rumah di Komplek Bendul Merisi Permai Blok K itu sejak lama sudah menetapkan agenda hari Sabtu (29/7) untuk mengundang para koleganya masa awal ketika mengembangkan  Harian Surya. Mereka adalah orang-orang "non redaksi" yang berada di balik keberhasilan Harian Surya, baik dari sisi bisnis, umum dan pracetak.

Harian Surya, awalnya berupa koran mingguan yang terbit sejak tahun 1985, sahamnya dimiliki Harian Pos Kota Jakarta. Ketika tahun 1989 berubah menjadi Harian Surya masuklah Harian Kompas mewakili Kompas Gramedia (KG) sekaligus merubah kepemilikan saham menjadi 50 persen Pos Kota dan 50 persen KG. Dalam perkembangan lanjutan di tahun 2002 seluruh saham Pos Kota dialihkan menjadi 100 persen milik  Kompas Gramedia.

Pada awal  restrukturisasi terdapat orang-orang redaksi Jakarta yang diperbantukan untuk memperkuat Harian Surya, baik dari Kompas maupun dari Pos Kota. Di lain pihak, manajemen Harian Surya juga melakukan rekrutmen reporter baru, termasuk para redaktur yang seleksinya banyak diikuti wartawan koran lokal dan koran Jakarta.

Orang non redaksi seperti H. M. Noor, berlatar belakang auditor P2K (Pengawasan dan Pengendalian Keuangan). Mereka ikut terlibat mengendalikan roda bisnis dari balik kamar orang redaksi. Kesibukan orang redaksi boleh dibilang sepanjang waktu, sementara orang non redaksi menjaga "nafas" usaha 24 jam nonstop. Orang non redaksi mengurusi stok kertas koran, stok tinta cetak --bersama manajemen percetakan, serta menata jalur pemasaran hingga mengatur "dapur" seluruh karyawan setiap akhir bulan.

Hadir menikmati Soto Betawi di kediaman H.M. Noor antara lain  Frans Pasenti --dengan istri, Winarno --bersama istri, Y. Sutikno, dan Ivan Bochem . Selain Ivan dan Winarno, semuanya sudah purna tugas.

"Kawan-kawan ini berbeda suku, agama dan berbeda keturunan tetapi bersatu mirip Indonesia Mini. Jadi menikmati Soto Betawi ibarat merajut kembali diplomasi Indonesia mini" ujar Frans Pasenti, mantan Vice GM GKU (Graha Kerindo Utama-jaringan usaha kertas tisu) Wilayah Indonesia Timur.

Menjaga persatuan bangsa memang perlu dan penting. Konsep yang harus dikembangkan menuju persatuan itu tentu saja adanya sebuah toleransi, yakni sikap sekaligus tindakan untuk menerima hal-hal yang berbeda.

Soto Betawi Asli
Dulu, cerita  Soto Betawi hanya bisa dinikmati lewat cerita kalau H.M. Noor pulang-mudik lebaran ke Jakarta. Sekarang, setelah H.M. Noor pada akhirnya memilih menetap di kota Surabaya setiap tahun Soto Betawi menjadi kuliner wajib di rumahnya. Hj. Cicih Noor, gadis Banyumas yang sebelum dipersunting M. Noor menjadi salah seorang karyawati di KG ternyata lihai meracik Soto Betawi.

Soto Betawi merupakan kuliner tradisional yang terkenal di Jakarta. Belum bisa dibilang lengkap berkunjung ke ibukota, kalau tidak merasakannya. Soto ini selain menggunakan daging sapi sebagai bahan utama, juga menggunakan bagian spesial seperti jeroan -paru dan otak.

Bahan utamanyan unik, terdiri dari bumbu cabai, bawang merah, bawang putih, merica, jahe, dan garam, kuah Soto Betawi versi Hj. Cicih Noor menggunakan susu sapi asli diselingi asam cuka. Otomatis berasa gurih dan nikmat, mengikuti daging dan jeroan yang dipotong kecil kecil.

Soto Betawi (kiri-atas) dan Asinan Betawi (kanan-atas)
Istri H.M. Noor ternyata piawai memasak menu lain. Ketika sedang menikmati Soto Betawi keluarlah Semur Jengko Betawil, Tape Ketan Betawi (dari ketan putih), dan Jenang Betawi. Asinan Betawi mengutamakan sayur, semacam tauge, timun, tahu, kacang dan sayur asin.

"Saya pernah mencoba soto di tempat lain, kualitas aroma serta rasanya menjadi tak lagi spesial." kata Winarno.

"Kuliner Betawi memang memiliki daya tarik luar biasa, itu sebabnya saya dan kawan-kawan mantan karyawan Kompas-Gramedia terpanggil memenuhi undangan dari M. Noor" tambah Y. Sutikno.

Siang itu menu khas Betawi, khususnya Soto Betawi menjadi luar biasa. Tentunya pilihan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat Soto Betawi  sudah demikian memasyarakat bahkan dikenal ke daerah lain. Soto Betawi sekadar bungkusnya. Isi sebenarnya adalah merajut tali silaturahim.

Eh, masih satu lagi. Sebelum pamit  Frans Pasenti membagikan bingkisan oleh-oleh, berupa pesmol ikan. Frans memang bukan suku Jawa, tapi istrinya orang Yogyakarta memasak sendiri ikan mujair itu. Inilah yang dimaksud "kebhinekaan" Indonesia Mini.

About Anonim

Tim penyusun arrangement website, konten isi dipetik dari kompasiana berdasarkan izin penulis dan narator Bapak Arifin BeHa.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :